Rabu, 16 Juni 2010

Apakah Filsafat Ilmu Hidup di Timur: Laporan dari Jepang

Tetsugaku adalah kata dalam bahasa Jepang untuk filsafat. Terdapat tiga fakta dasar tentang filsafat Jepang: (1) Filsafat Jepang dimulai pada era Meiji dengan mengkombinasikan konsep-konsep Konfucius dan Budha yang kemudian menjadi Tetsugaku. (2) Logika empirisme diperkenalkan setelah Perang Dunia Kedua; Departemen Sejarah dan Filsafat Ilmu pada Universitas Tokyo didirikan pada tahun 1951 yang merupakan satu-satunya departemen dalam bidang itu sampai tahun 1993. (3) Filsafat ilmu beraliran Marx muncul pada tahun 1930-an degan tokoh utamanya bernama Mitsuo Taketani (1911 – 2000) seorang fisikawan yang mempubilkasikan Doktrin Tiga Tahap Pengembangan Ilmu pada tahun 1936. Tokoh lainnya adalah Hideki Yukawa – orang Jepang pertama yang menerima hadiah Nobel pada tahun 1949 dalam bidang fisika – yang menulis makalah tentang partikel baru yang disebut ”messon”.

Doktrin Taketani tentang pengembangan ilmu terdiri atas tiga tahap yang merupakan penerapan dari pemikiran Hegel ; tesis, antitesis, sintesis. Pertama, ilmu dimulai dari penjelasan-penjelasan atas pengalaman – tahap fenomenal. Kedua, selanjutnya timbul pertanyaan-pertanyaan tentang urutan substansi yang akan berkembang menjadi objek pengalaman, dan urutan struktur pengalaman – tahap substansial. Ketiga, dari tahap kedua kemudian muncul pertanyaan tentang subtansi dan fenomena yang merupakan subjek dari tahap esensial yang merupakan sintesis dari kedua tahap sebelumnya. Proses ini tidak berhenti tetapi berlangsung secara siklis dalam level yang lebih tinggi.

Logika empirisme Jepang dipelopori oleh Saburo Ichii (1922 – 1989) ahli kimia yang kemudian belajar di Inggris dalam bimbingan Karl Popper. Ia menterjemahkan berbagai tulisan Russel, Popper, Reinchenbach dan memperkenalkan Sekolah Bahasa Oxford pada para filsuf Jepang. Ichii tidak setuju dengan Doktrin Taketani yang tergantung atau sangat dipengaruhi oleh logika dialektis. Kritik Ichii terhadap doktrin tersebut berdasarkan kritiknya atas Logika Dialektik Hegelian. Selanjutnya Ichii menggunakan pandangan Herbert Feigl untuk membedakan empat tahapan penjelasan ilmiah, yaitu (1) tahap penjelasan, (2) tahap hukum empiris, (3) tahap teori tatanan pertama, (3) tahap teori tatanan kedua. Ichii menginterpretasikan tahapan pertama dan kedua berhubungan dengan tahapan fenomenal dalam Doktrin Taketani. Sedangkan tahapan ketiga dan keempat adalah tahapan teoritis yang mengkonstruksikan bahwa struktur mikroskopis mendasari fenomena makroskopis yang teramati yang kemudian disebut sebagai ”postulat tentang kesatuan”, dimana berbagai postulat tentang kesatuan disebut ”construct odf abstracts and mathematical order”. Ichii menyatakan bahwa postulat tentang kesatuan berhubungan dengan tahap substansial Taketani, sedangkan construct of abstracts and mathematical order berhubungan dengan tahap esensial Taketani. Dengan demikian antara logika empirisme Ichii dengan Doktrin Taketani mempunyai kesesuaian pendekatan satu sama lain.

Hubungan antara filsuf dengan ilmuwan di Jepang terlihat pada saat pergerakan logika empirisme, yaitu filsuf mempelajari ilmu pengetahuan, dan sebaliknya para ilmuwan mempelajari filsafat. Nobushige Sawada (mantan President Masyarakat Filsafat Ilmu Jepang) menyaksikan berbagai simposium pada tahun 1950-an dimana para ahli matematika, fisika dan filsafat bersama-sama mendiskusikan tema-tema umum untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang ilmu pengetahuan. Juga tercatat beberapa mahasiswa ilmu pengetahuan beralih mempelajari filsafat, misalnya selain Saburo Ichii adalah Shozo Ohmori - meskipun masih relatif muda, Ohmori adalah salah satu pendiri Departemen Sejarah dan Filsafat di Universitas Tokyo. Demikian juga Nakamura seorang ahli matematika yang kemudian beralih menjadi filsuf yang secara unik menggabungkan filsafat Marxist dengan logika empirisme. Semuanya merupakan orang-orang yang sangat aktif dalam melakukan advokasi filsafat ilmu di Jepang. Penerus dari filsuf Jepang yang berpengaruh adalah Murakami yaitu murid Ohmori di Departemen Sejarah dan Filsafat Universitas Tokyo. Ohmori merupakan salah satu pendiri filsafat ilmu di Jepang yang bersama murid-muridnya menterjemahkan berbagai hasil pemikiran filsuf dunia, antara lain Norwood Russel Hanson, Paul Feyerabend, Imre Lakatos, Popper, Carnap dan Hemrel.

1 komentar:

Unknown mengatakan...

buku buku filsafat jepang kok sagat sulit ditemui dimana bisa didapatkan