Tulisan Paul Johnson dengan judul di atas yang mengupas perilaku toleran dan intoleran yang selanjutnya dikaitkan dengan kemakmuran dan ketidakmakmuran suatu negara, dengan memberi contoh China, India, Iraq, Libya, Aljazair, Uganda, dan Saudi Arabia, sangat terasa dilatarbelakangi oleh pandangan bahwa sistem nilai negara-negara Baratlah yang relevan untuk dianut dan diwujudkan secara global. Pandangan demikian yang menyebabkan relatif sangat sedikitnya negara-negara yang mengecam invasi Amerika Serikat dan sekutunya terhadap
Kemakmuran tidak semata karena melimpahnya faktor material untuk memenuhi kebutuhan dan bahkan keinginan jasmani, tetapi juga dipengaruhi oleh terwujudnya kondisi batin yang aman, tenang, religius, dan bermartabat. Dengan demikian kemakmuran menyediakan cukup syarat untuk memenuhi keinginan setiap orang; dihargai sebagai manusia.
Berpatokan terhadap sistem nilai, maka dapat dikategorikan empat perilaku yang terkait dengan toleransi. Pertama, toleran positif; mendukung perilaku yang sesuai sistem sosial. Kedua, toleran negatif; mendukung perilaku yang tidak sesuai sistem nilai. Ketiga, intoleran positif; menolak perilaku yang tidak sesuai sistem nilai. Terakhir, intoleran negatif; menolak perilaku yang sesuai sistem nilai.
Agar terwujud kemakmuran yang ditandai kondisi jasmani dan batin sebagaimana pada alinea kedua, maka layak diterapkan dua perilaku, yaitu toleran positif dan intoleran positif. Selain itu harus secara tegas dihindari dua bentuk perilaku lainnya, yaitu toleran negatif dan intoleran negatif.
Kesimpulannya, sistem nilai yang dianut individu dan masyarakat merupakan saringan dalam menentukan perilaku toleran. Setiap orang harus toleran terhadap perilaku sesuai yang sistem nilai dan intoleran terhadap perilaku sebaliknya. Perilaku seperti itulah yang dapat mewujudkan kemakmuran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar